media Rilisan Bangsa .com, rebes, 13 Juli 2026 Harapan besar menyelimuti hati Mei Susana, seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di Jalan Doso Muko Gang Ikhlas Nomor 7, Kampung Sawah, Brebes. Ia hanya menginginkan satu hal sederhana namun sangat berharga: putranya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP di sekolah negeri, apa pun namanya dan di mana pun letaknya. Bagi Mei, yang terpenting anaknya bisa kembali duduk di bangku sekolah dan menuntut ilmu layaknya anak-anak lain seumurnya.
Cerita pilu dialami Mei setahun yang lalu. Saat putranya tamat dari Sekolah Dasar, ia terpaksa menahan diri untuk tidak mendaftarkan anaknya ke sekolah lanjutan. Bukan karena anaknya tidak pintar, melainkan karena keterbatasan biaya yang melilit keluarganya. Keterbatasan ekonomi membuat langkahnya terhenti, dan setahun lamanya anaknya hanya berada di rumah sementara teman-temannya sudah sibuk belajar di sekolah menengah pertama.
Tahun ini, semangat dan harapan kembali tumbuh. Mei bertekad memasukkan anaknya ke sekolah negeri. Ia mencoba mendaftarkan putranya secara daring melalui jalur pendaftaran ke SMP 5 Brebes. Namun sayang, harapan itu kembali pupus. Pendaftaran ditolak lantaran faktor usia anaknya yang dianggap sudah melebihi batas ketentuan umum.
“Satu tahun lalu setelah tamat SD, anak saya tidak saya daftarkan karena memang tidak punya biaya. Tahun ini saya berusaha sekuat tenaga, mencoba daftar lewat sistem online ke SMP 5, tapi tidak diterima karena umurnya sudah kelebihan. Saya hanya ibu biasa yang ingin anaknya bisa sekolah, tidak minta sekolah yang favorit, sekolah negeri mana saja yang penting ia bisa belajar,” ujar Mei dengan nada haru dan mata berkaca-kaca saat ditemui wartawan.
Menghadapi situasi yang pelik ini, Mei Susana pun memohonkan bantuan dan perhatian khusus. Ia menaruh harapan besar kepada Bunda Eve serta Kepala Dinas Pendidikan setempat. Ia berharap kebijakan yang diambil bisa sedikit luwes bagi anak-anak yang sempat tertunda pendidikannya karena kendala ekonomi, agar mereka juga berhak mendapatkan kesempatan mencerdaskan diri.
“Saya mohon kebaikan hati Bunda Eve dan Bapak Kepala Dinas Pendidikan. Tolong berikan celah bagi anak saya. Sekolah negeri mana saja boleh, asalkan ia bisa kembali bersekolah. Itu cita-cita satu-satunya yang saya inginkan demi masa depannya,” tambahnya penuh harap.
Hingga berita ini diturunkan, Mei Susana masih menanti kabar kebaikan. Kedom Mata Lampung pun turut berharap kisah ini bisa menggugah hati pihak berwenang agar hak pendidikan bagi setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, dapat terwujud dengan nyata.


